RilisanRilisan Baru

Bilal Indrajaya – Dua Dunia: Ketika Perjumpaan dan Perpisahan Tak Lagi Berkebalikan

Bilal Indrajaya tak pernah terasa terburu-buru dalam menyampaikan sesuatu. Ia membiarkan waktu bekerja dalam diam, dan Dua Dunia adalah bukti bahwa kesenyapan bisa menjadi bahasa yang paling jujur.

Mini album ini tidak diciptakan dari ambisi untuk menyapa panggung besar atau memenuhi ekspektasi pasar, tetapi lahir dari momen-momen personal yang terlalu kuat untuk disimpan sendiri: perjumpaan, perpisahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu perlu dijawab.

Dengan pendekatan stripped-down dan nyaris telanjang, Bilal mengandalkan ruang kosong untuk bicara. Tak ada instrumen yang saling berebut perhatian, tak ada dramatisasi sonik. Hanya suara, gitar, dan udara. Produksi Lafa Pratomo terasa nyaris tak terlihat dan justru karena itu, jadi sangat terasa.

Achir Maret, yang lebih dulu dirilis sebagai single pembuka, adalah pintu yang membuka dunia sunyi ini. Disusul oleh nomor-nomor seperti Kaus Kaki Merah dan Akhir Pekan yang Hilang, album ini berjalan perlahan, mengajak pendengarnya tidak hanya mendengar, tapi juga ikut diam dan merenung.

Menariknya, satu-satunya lagu yang tidak ditulis Bilal, Bunga Kenangan di Bandung Utara karya Lafa tidak terdengar seperti lagu “tamu”. Justru terasa seperti puncak kontemplasi dari narasi yang dirajut sepanjang album. Sebuah gestur kolaboratif yang tidak hanya estetis, tetapi juga emosional.

Judul Dua Dunia sendiri bukan sekadar metafora cinta yang gagal bersatu. Ia juga bisa dibaca sebagai refleksi dari realitas yang terus berlapis: prinsip yang berbeda, fase hidup yang tak sinkron, atau sekadar dua orang yang tidak bisa bertemu di titik yang sama, meski pernah saling menatap dengan utuh.

Album ini bukan untuk didengar sambil lalu. Ia mengajak kita masuk pelan-pelan, duduk diam, dan menerima bahwa tidak semua hal harus diselesaikan. Kadang, cukup untuk sekadar merasakan.

Dan itulah kekuatan Bilal Indrajaya, menghadirkan ruang yang sunyi tapi hangat, penuh pertanyaan tapi juga penghiburan.

Oleh Bayu Fajri

Shares:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *