RilisanRilisan Baru

“Perangai Nadir” Deadsquad: Sebuah Serangan Sonik Brutal Sebagai Kritik Sosial 

Kerumitan lirik bertema gelap sarat makna mendalam tentang kritik sosial, kembali lagi menjadi isu utama. Dalam single terbaru nya bertajuk “Perangai Nadir”, Deadsquad punya cara yang keras dan langsung untuk menyindir kondisi kemanusiaan yang suram, terhimpit posisi tragis yang timpang sekaligus rumpang. Dinamika harmonis dengan tempo sangat rapat yang diusung dalam lagu ini, telah menyempurnakan mood misterius dibalik realitas kuasa gelap dengan intens keras berlapis. 

Deadsquad adalah supergrup death-metal ikonik, dikenal melalui aransemen musik yang sangat teknis, intens dan penuh energi. Kompleks dan keras jadi identitas pada setiap teknik bermain mereka. Deadsquad identik dengan permainan presisi tinggi, termasuk Riff gitar yang kuat, berat dan cepat didukung vokal brutal lengkap dengan growling dan screaming nya yang membara serta permainan drum yang agresif. 

“Perangai Nadir” mengambil inspirasi dari berbagai referensi mitologi hingga kanonik kebudayaan kolektif peradaban manusia. Beberapa simbol yang muncul tidak hanya sekedar metafor tapi juga pesan langsung mengenai kompas moral hidup kita. Berfokus pada tragedi tentang momentum hancur leburnya keutuhan dan kesatuan arkais tentang kebersamaan eksistensi budi dan hati. Setiap lirik menyusupkan simbol elemental dan kebijaksanaan yang dipenetrasi kekuasaan.

Narasi yang dibangun terkait momentum merosot nya kearifan global makro-mikro kosmos perilaku azali yang tinggi, sontak berubah menjadi perilaku terburuk yang rendah. Sebelum masuk ke dalam labirin kesemrawutan tersebut, manusia sering dibuat ragu oleh serangkaian kalam-kalam dusta dari pusat ilmu pengetahuan palsu yang merupakan representasi dari bias media massa.

Kritik sosial politik pada lirik muncul dalam bentuk emosi dasar dan kegeraman murni. Perapalan mantra menjadi pilihan terbaik dalam diksi. Misalnya saja perpecahan antara keteraturan-kesemrawutan, tinggi-rendah, baik-buruk disimbolisasikan dengan perobekan kalam dan penikaman realitas tunggal, menjadi pecahan kepingan malam yang penuh kekosongan dan ketakutan minim bahkan nihil kepastian.

“Perangai Nadir” menyoroti kondisi tragis manusia yang akhirnya meraba-raba mencari petunjuk ke seluruh penjuru, hanya untuk tertipu kembali pada rezim para intelektual hitam atau mungkin kata ganti untuk para politisi pada lagu ini. Tirani dan manipulasi informasi menjadi representasi silang sengkarut perilaku terburuk bagi kesadaran manusia. Kesadaran tertinggi berada dalam kekosongan dibalik hitam pekat carut-marut ketidakteraturan. 

Lagu ini himbauan langsung untuk merengkuh ketidakpastian sebagai bagian dari desain keteraturan yang lebih besar lagi dan masih misterius hingga kini. Keseluruhan pesan tersebut juga turut dirayakan dalam pesta visual yang diarahkan langsung okeh Vicky Mono selaku penulis lirik. Jadilah visual lirik Perangai Nadir sebagai perpaduan format teatrikal yang esoteris dengan visual 3D.

(Agung Setiawan)

Shares:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *