Rilisan

Eksperimen Ketat, Padat Referensi, Aman dari Berantakan, Inilah Bon Vivant!  

Pesta pora dari panggung ke panggung, gigs hingga festival sebanyak mungkin, jadi energi dan semangat Grisly Mother Costumes mengukuhkan identitas mereka melalui rilisan EP perdana Bon Vivant pada 17 Mei 2024 tadi. Mengawali tahun dengan beat yang cukup cepat, dua rilisan sebelumnya kini siap melantai dengan tiga track lainnya di setiap lantai dansa. 

Quartet rock asal jakarta yang gemar mencampur-aduk jenis musik sesuka hati ini beranggotakan Hamam Sofyan (Vokal), Fadil Alfaridzy (Drum),  Imam Rosyadi (Bass), Rizky Indrayadi (Gitar). Karakter Vokal dengan lirik cynical yang khas, permainan gitar ala garage/dance-revival 2000an, komposisi drum dan perkusi yang keras, isian bass penuh dengan groove dominan yang kental, ditambah sampling, dan isian synthesizer tematik di tiap lagunya. EP ini punya banyak sekali elemen, gaya dan referensi yang saling bertabrakan, terutama pada lagu Crystal Face, Blue’s Clues dan Radio America. Sedangkan pada Nomad Youth, Grisly bersepakat dalam semangat Bon Vivant nya untuk mengekspresikan benang merah idealisme mereka. Dengan semangat yang sama di arus yang berbeda, When Everything is Fine dirancang untuk membuat impresi dan persona band dilihat dari kaca mata calon pendengar setia.

Dua single yang rilis duluan ‘Nomad Youth’ dan ‘Crystal Face’ di awal tahun tadi bukan hanya jadi percobaan tapi justru jadi penentuan. Nomad Youth sudah memiliki distingsi yang kuat untuk gambaran sosok Grisly sebagai Bon Vivant secara audio sekaligus visual. Spotlight yang akhirnya ditemukan kembali pada When Everything is Fine dengan komposisi formula hampir serupa namun agak padat dan minim progresi. Tidak salah jika track tersebut merupakan track yang dijagokan oleh para personilnya di EP ini karena dianggap easy-listening dan pop-ish. Didominasi dengan groove bass dan beat dasar four on the floor. 

Single Blue’s Clues didominasi nuance intro dengan spirit gypsies dan psychedelic agak santai ala-Stone Roses menuju ledakan drum-break ala-Fatboy Slim. Dengan tempo yang ringan mengajak pendengar bergoyang trippy tipis-tipis. Lagu ini bercerita tentang copycats di sekeliling anda. Beberapa orang mengorbankan segalanya demi menjadi sesuatu yang bukan mereka. Radio America direkam menggunakan aplikasi voice memo. Karakter vokal asli diredam dalam batas ambang beat. Paling ditunggu saat versi livenya dimainkan agar lirik muatan romantisnya jadi makin manis. Memiliki judul yang sama dengan lagu Libertines, direkam mentah dengan gaya yang sama.

(Agung Setiawan)

Shares:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *